Soft-skill Academy YTB #1


Apa yang terjadi denganmu, Ikal?? Mengapa jadi begini sekolahmu? Kemana semangat itu?? Mimpi-mimpi itu ??!!”. ‘Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu !!” ‘Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…. (Arai—Sang Pemimpi)

Week #1

Selama hampir 3 bulan ke depan, saya dan suami mendapat kesempatan untuk mengikuti program tambahan yang diadakan oleh YTB (Yurdışı Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanlığı), program yang diikuti oleh mahasiswa terutama penerima beasiswa dari YTB ini melibatkan mahasiswa asing dan lokal baik jenjang strata satu, magister, maupun jenjang doktora. Program “Akademik ve Mesleki Eğitim Programı” ini dikemas dalam bentuk seminar, kunjungan tempat dan tokoh. Beruntungnya, program pengayaan hanya dilakukan di 11 kota di Turki, termasuk di kota kamı, Bursa. Saya dan suami bersemangat untuk mengikuti rangkaian acara pekanan yang disusun oleh YTB karena muatannya yang kaya. YTB kali ini bekerja sama dengan organisasi sipil yang ada di masing-masing daerah, misalnya di Bursa YTB bekerja sama dengan Bursa Valiliği (Kantor Sipil Bursa), Türkiye Yazarlar Birliği (Asosiasi Penulis Turki), dan Ozmangazi Belediyesi (Pemerintah Wilayah Ozmangazi).

Bursa

Sisi menarik yang ditawarkan program ini adalah pembahasan topiknya yang komprehensif, karena memang tujuan program adalah selain membentuk jaring kekerabatan intelektual antara pelajar Turki dan mahasiswa asing juga pengayaan materi yang pembicaranya sudah sangat menguasai core competence-­nya. Selam 3 bulan, program dirancang untuk memanjakan kami yang ingin menggali pengetahuan melalui forum ilmiah, baik bahasan mengenai sosyal bilimler (ilmu sosial), kültürel çalışmalar (kebudayaan), sivil toplum (asosiasi kemasyarakatan), medya ve iletişim (media dan komunikasi), kişisel gelişim (pengembangan diri), serta bilim ve teknoloji (sains dan teknologi). Ini menyenangkan sekali untuk kami yang selain ingin menambah kemampuan berbahasa turki, kami juga mendapatkan asupan materi dan tentu saja teman seluas-luasnya dari berbagai disiplin ilmu dan jenjang pendidikan.

Program yang padat mulai dari pukul satu siang hingga jam 7 malam ini dibagi menjadi 3 seminar setiap pekannya. Sesi pertama adalah seminar dengan tema social, sesi kedua seminar tentang kultur dan seni, sementara sesi sore hingga petang adalah seminar yang ditujukan untuk mahasiswa magister dan doktora dengan topic yang lebih berat. Pada pembukaan acara (29 Maret 2014), kami sudah disuguhi seminar berbobot yang disampaikan oleh Prof. Dr. Mustafa Kara. Beliau adalah guru besar sekaligus ketua departemen Tasawuf Sejarah di Fakultas Teologi Uludağ Universitesi. Meski tidak semua professor memiliki kemampuan menyampaikan materi dengan renyah tetapi Mustafa Kara yang terkenal telah menelurkan banyak karya ini, terbukti bukan hanya penulis hebat asal Bursa tetapi juga intelektual yang sangat pandai membawakan materi Buhara-Bursa-Endülüs-Bosna Kitaplar ve Bilginler (Karya dan Kitap dari Penjuru Bursa-Buhara-Anadalusia-Bosnia) dengan runtut. Sıngkatnya, menurut pemaparan Mustafa Kara Hoca, begitu kami menyapanya, bagi seorang intelektual kitap dan buku adalah kunci hikmah karena sejatinya hanya ada 3 jenis kitab di dunia, yaitu kitabullah (Kalam milik Allah), kitab para Rasul, dan kitap para alim. Kitap jenis terakhir inilah yang harus dikaji dikritisi dan diambil hikmahnya disamping pengetahuan mutlak yang ada dalam kedua jenis keitab lainnya. Mustafa Kara Hoca juga berkali-kali menegaskan pepatah “Dimana ada mawar, maka di sana ada duri, maka berhati-hati, sebaliknya ketika jarimu sakit tertusuk duri periksa dengan seksamalah karena di sana—tak jauh dari sana pasti ada mawar merekah”. Disinilah keluasan ilmu dan hikmah, imu yang luas membuka peluang keburukan-keburukan tetapi sebaliknya dalam setiap kesempitan kepayahan kondisi hidup disana hikmah berserak menunggu untuk diraih oleh para alim.

Sesi selanjutnya kami belajar mengenai musik dan alat tradisional khas Turki. Penjelasan sekaligus penampilan musik dibawakan dengan apik oleh DR. M. Zinnur Kanik sebagai ketua grup musik. Menurutnya, melalui musik tradisional terutama musik ilahi (keagamaan), manusia diajak berfikir dan mengingat Tuhan. Lagu yang dibawakan kelompok musik ini pun tidak hanya dari bahasa Turki tetapi campuran dari beberapa bahasa misalnya Persia atau Iran tetapi dalam pemaknaan kembali ke satu muara untuk memuji keesaan Allah.

Week#2

Sabtu pekan pertama di bulan April ini menjadi Sabtu yang berkah karena kami percaya langkah menuju majelis ilmu dan selama berada di majelis ilmu, usaha kami tidak akan sia-sia. Siang 5 April 2014 itu, kami masuk di sesi kedua seminar setelah sebelumnya D. Mehmet Doğan, seorang penulis sekaligus mantan ketua Türkiye Yazarlar Birliği (Asosiasi Penulis Turki) selama 18 tahun ini menyampaikan materi mengenai “Bir Dilin Sözlüğünü Yazmak (Bahasa Tulisan)”.

Berlanjut ke topik media dan komunikasi, program pengayaan ini menghadirkan Muhsin Mete, mantan direktur saluran berita terbesar di Turki, direktur TRT-Turki untuk membahas bagaimana gambaran wajah media sebelum berkembangnya. Muhsin Mete hoca tersirat menegaskan krusialnya media dan komunikasi di zaman modern sekarang ini. Terlebih jika dilihat dari konsep kekinian, media menjadi luas maknanya sekarang ini bukan sekedar medium penyampai berita tetapi bahkan menjadi pembentuk opini publik, buruknya jika disalahgunakan media bahkan bisa menjadi senjata masal yang bisa menggiring pandangan dunia atau justru mengalihkan dunia dari isu-isu global. Perkembangan media adalah perkembangan yang tidak pernah habis akan aktualisasi. Seberapa cepat dunia berubah dan berkembang maka media berkembang sama cepatnya.

Muhsin Mete

Sejauh ini kami sama sepakat dan sama tertariknya dengan bahasan di sesi penutup pekan kedua program pengayaan yang diadakan di Seyyid Kultur merkezi, Altiparmak, Ozmangazi ini. Tidak lain penyebabnya adalah pemateri adalah dosen suami saya sendiri, Prof. DR. Kemal Ataman, pengajar di Fakultas Teologi untuk cabang Sosialogi Agama. Sejak membuka suara di ruangan kami sudah mulai tertarik dengan gaya penyampaiannya yang fleksibel terkesan impromptu tetapi sekali lagi renyah. Bahasan yang dibawakan Prof. Ataman memang menarik, bagaimana beliau menjelaskan Hubungan Agama dan Politik di Barat (Batıda Din-Siyaset İlişkisi) dengan pengalaman langsung ke negara-negara Barat, bukan hanya Eropa seperti Italia, Prancis, Inggris, Jerman yang secara geografis dekat dengan Turki tetapi juga kehidupan beragama dan politik yang ada di Amerika. Tentu lebih menarik mengingat beliau adalah muslim lulusan fakultas teologi Uludağ Universitesi kemudian menyelesaikan magister dan doktoranya di Amerika sebagai minoritas terlebih karena beliau memilih Catholic University sebagai ladang mencari ilmunya.

Prof. DR. Kemal Ataman

Beliau menjelaskan bahwa sumber-sumber keagamaan tidak lain tujuannya adalah aydınlatma (penerangan/illumination), terlepas dari jenis apakah itu. Bagaimana konsep keagamaan berkembang sejak nabi-nabi dahulu diutus di tanah bangsa Israil lalu berkembang hingga sekarang. Jika kita berpikir bahwa negara Islam dan negara timur tengah-lah yang kuat keagamaannya kenyataannya salah. Di barat, meski liberalisme atau sekulerisme menjadi nadi kehidupan kesehariannya nyatanya umat kristiani masih bersatu dalam sistem kepaulusan, nyatanya di Amerika yang dilabeli penuh dengan ateisme berdasarkan penelitian dan data angket 95% masih mempercayai keberadaan Tuhan, misalnya di wilayah Massachusetts, ada bagian wilayah yang terkenal agamis. Sementara di Islam apa yang disebut Prof. Ataman sebagai temsil organel (organ representatif) seperti yang dimiliki umat Kristiani tidak ada. Karenanya penanaman agama tidak terlepas dari istilah civilization (Turkce: sivil), yang berasal dari bahasa Latin padahal awalnya adalah bahasan mengenai madaniyyah/medeniyyet konsep yang telah Rasulullah tanamkan sejak dahulu. Jika dikaitkan dengan negara kita, Indonesia, sudahkah kita menjadi negara madani?

Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak disana-sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang. …..“Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu”. (Pak Balia— Sang Pemimpi)

.

Mengingat betapa luasnya ilmu yang belum teraih, semoga suatu hari kaki-kaki kami diperkenankan menjejak bumi Allah yang lain, tempat terseraknya ilmu dari ujung barat ke timur dunia.

Leave a Reply Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s